SATUIN.COM, JAKARTA – Industri aluminium Indonesia memasuki fase pertumbuhan baru. Di tengah peningkatan kapasitas produksi dan dorongan hilirisasi, kebutuhan terhadap teknologi pengolahan, manufaktur, hingga produk aluminium bernilai tambah semakin besar.
Momentum tersebut akan menjadi salah satu sorotan utama GIFA dan METEC Indonesia 2026 yang digelar pada 9–12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta.
Untuk pertama kalinya, penyelenggara menghadirkan Aluminium Pavilion, area khusus yang menampilkan teknologi, material, dan solusi untuk industri aluminium. Kehadiran paviliun ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem aluminium nasional dari hulu hingga hilir.
Pameran internasional bidang foundry dan metalurgi tersebut diselenggarakan Messe Düsseldorf Asia bersama Pamerindo Indonesia, serta menjadi special co-located exhibition dengan Mining Indonesia ke-24.
Sekitar 200 perusahaan dari delapan negara diproyeksikan ambil bagian, yakni Austria, Tiongkok, Jerman, India, Italia, Singapura, Spanyol, dan Indonesia. Jumlah pengunjung profesional diperkirakan mencapai sekitar 6.000 orang.
Managing Director Messe Düsseldorf Asia, Lars Wismer, menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam perkembangan industri logam di kawasan Asia.
“Indonesia memiliki posisi yang semakin strategis dalam industri logam global, tidak hanya sebagai salah satu produsen mineral terbesar di dunia, tetapi juga sebagai pasar yang berkembang pesat bagi teknologi pengolahan dan manufaktur maju,” ujarnya.
Deputy Event Director Pamerindo Indonesia, Hanung Hanindito, mengatakan pameran tersebut diharapkan menjadi ruang pertemuan antara kebutuhan industri dan teknologi yang mampu menjawab tantangan pasar.
Menurut dia, GIFA dan METEC Indonesia 2026 akan membuka peluang bagi pelaku industri untuk memperluas jejaring, menemukan teknologi baru, sekaligus membangun kerja sama.
Kapasitas Aluminium Melonjak
Pertumbuhan industri aluminium nasional berlangsung ketika pasar global masih menghadapi potensi kekurangan pasokan.
Berdasarkan proyeksi S&P Global, defisit pasokan aluminium dunia diperkirakan mencapai sekitar 764 ribu ton pada 2026. Kondisi ini dinilai membuka peluang bagi negara dengan kapasitas produksi yang terus berkembang, termasuk Indonesia.
Data Shanghai Metal Markets (SMM) menunjukkan kapasitas produksi aluminium primer Indonesia diproyeksikan meningkat tajam, dari sekitar 870 ribu ton pada 2025 menjadi 2,51 juta ton pada 2026. Angka tersebut diperkirakan kembali meningkat hingga sekitar 3,56 juta ton pada 2027.
Analisis CRU juga menunjukkan Indonesia telah bertransformasi menjadi eksportir bersih aluminium primer. Sejumlah pasar ekspor utama antara lain Tiongkok, Vietnam, dan Korea Selatan.
Namun, peningkatan kapasitas produksi primer belum sepenuhnya diikuti penguatan industri hilir. Indonesia masih mengimpor berbagai produk aluminium olahan dan fabrikasi, mulai dari pelat, foil, struktur hingga komponen otomotif.
Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang besar untuk mengembangkan industri pengolahan aluminium bernilai tambah di dalam negeri.
Teknologi Jadi Kunci Hilirisasi
Pertumbuhan industri aluminium turut meningkatkan kebutuhan terhadap teknologi pendukung, mulai dari peralatan casting, thermal processing, simulasi digital, mesin fabrikasi, pengendalian mutu hingga material handling.
Teknologi tersebut menjadi bagian dari ekosistem yang akan ditampilkan dalam GIFA dan METEC Indonesia 2026.
Sejumlah perusahaan internasional dan nasional akan menghadirkan solusi di bidang pengecoran, peleburan, metalurgi, digitalisasi manufaktur hingga rekayasa industri.
Di sektor foundry, GIFA Indonesia antara lain menghadirkan Cunova GmbH dari Jerman, EBNER Industrial Furnaces dari Tiongkok, serta KALFRISA S.A.U. dari Spanyol. Perusahaan nasional seperti PT Wilisindomas Indahmakmur dan PT Citec Engineering Indonesia juga dijadwalkan berpartisipasi.
Sementara METEC Indonesia akan menampilkan teknologi simulasi pengecoran, digitalisasi rantai pasok, peralatan presisi dan solusi rekayasa metalurgi melalui sejumlah perusahaan, termasuk MAGMA Engineering Asia Pacific, Oteplace, Servizi Lame di A. Marchesini, PT Wintherm Bara Indonesia, dan Metallurgical Corporation of China Ltd.
Menyasar Otomotif dan Kendaraan Listrik
Aluminium semakin strategis seiring pertumbuhan industri otomotif, kendaraan listrik, energi terbarukan, serta kebijakan pemerintah yang mendorong hilirisasi mineral.
Asia-Pasifik sendiri menyumbang hampir separuh permintaan global terhadap teknologi die-casting. Posisi Indonesia yang semakin kuat dalam rantai pasok otomotif ASEAN turut membuka peluang bagi pengembangan industri aluminium nasional.
Kebijakan hilirisasi juga menjadi faktor penting. Larangan ekspor bijih bauksit sejak 2023 mendorong pengolahan bahan baku di dalam negeri melalui fasilitas pemurnian dan peleburan.
Tahap selanjutnya adalah memperkuat rantai industri setelah proses peleburan, sehingga aluminium dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Melalui Aluminium Pavilion, GIFA dan METEC Indonesia 2026 ingin mempertemukan produsen aluminium, industri hilir, manufaktur, perusahaan otomotif, penyedia teknologi, hingga pelaku industri pengecoran dalam satu ekosistem.
Dengan demikian, pameran ini tidak sekadar menjadi ajang melihat teknologi terbaru, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kemitraan dan mempercepat transformasi industri aluminium Indonesia menuju produk bernilai tambah dan berdaya saing global.
GIFA dan METEC Indonesia 2026 akan berlangsung pada 9–12 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
(aziz)











